Tampilkan postingan dengan label Kabar Qiyadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar Qiyadah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 April 2015

WAKIL KETUA MPR RI HIDAYAT NURWAHID BERBAHASA JAWA DI BINJAI

Dengan berbicara Bahasa jawa yang hanya dipahami oleh beberapa kader PKS Binjai-Langkat, 

Al Ustadz Hidayat Nurwahid membuat suasana menjadi sedikit fokus. Walaupun ada beberapa kader PKS yang tertawa mendengar bahasa jawa yang disampaikan membuat pertanyaan apakah mereka paham dengan yang diucapkan atau tertawa karena ketidakpahaman. Termasuk saya selaku peliput berita tidak bisa menuangankan kedalam bahasa Indonesia apa yang beliau sampaikan di tulisan ini. Hidayat Nurwahid dalam silaturahimnya menyampaikan bahwa kesuksesan di Kota Binjai dapat meningkatkan kesuksesan di daerah lain, begitu juga sebaiknya. Wakil ketua MPR RI ini juga menyinggung tentang kekejaman ISIS yang bisa juga membuat pandangan buruk umat Islam. Pandangan buruk juga pernah terjadi di negara ini tentang tdk diperbolehkannya berbicara kepemerintahan (politik) dalam ceramah-ceramah agama. Juga pernah diwacanakan dalam penghapusan kolom agama di identitas kependudukan. 

Di era sekarang sangat memungkinkan munculnya begitu banyak fitnah. Hidayat Nurwahid juga memesankan bahwa banyak orang lebih melihat apa yg kita kerjakan daripada apa yg diucapkan. Dalam Triaspolitika PKS ikut serta dalam bermusyarokah di negara ini (eksekutif legislatif, yudikatif). Keefektifan menyampaikan kebaikan lebih baik jika kita bisa berada dalam wilayah eksekutif, terutama kesiapan kita dalam Pilkada Kota Binjai. Kebaikan kebaikan dalam pengelolaan yg dilakukan para kader PKS di eksekutif kurang terpublikasikan di umum. Ini yang membuat pemberitaan tidak seimbang dan menganggap para potensi kader PKS yg berada di eksekutif tidak memiliki kerja nyata. Kemenangan PKS pernah kita lakukan di jakarta sebagai miniatur Indonesia dengan kerja-kerja kader kita untuk memperjuangak hak2 rakyat. Kita senatiasa menyampaikan kebaikan-kebaikan walapun posisi kita berada pada oposisi. 

Peristiwa menarik dalam kehangatan bersama Bapak Jokowi tutur Hidayat, terjadi pada saat perjamuan kepresidenan tentang minuman yang ber alkohol. Kegiatan kehangatan juga terjadi disaat rencana peresmian pembangunan masjid. Pada saat pelantikan di istana Presiden saya mengingatkan tentang janji peresmian tersebut yang hampir dia batalkan karena adanya agenda kepresidenan untuk berkunjung ke Swiss. Secara khusus posisi PKS dalam perpolitikan adalah untuk berdakwah menyampaikan kebaikan dan melarang perbuatan-perbuatan yang buruk. Secara umum konsentarsi kita baik di daerah maupun dipusat adalah demi kebaikan masyarakat dengan kebaikan-kebaikannya ujar beliau. Pilihan kita sebagai partai politik adalah harus siap mengerti tentang  Indonesia dan sistim kepemerintahan. Ini yang membuat kita harus terus melakukan pembelajaran politik yang diiringi dengan ibadah kepada Allah s.w.t. Diakhir diskusinya yang sangat singkat karena harus mengikuti kegiatan pembukaan kompetisi HNW Cup di GOR rambung beliau memesankan untuk memaksimalkan kemenangan pilkada di Kota Binjai, mudah-mudahan Allah meridhoi cita-cita kita. HR

Senin, 21 April 2014

DR. WARSITO, M.Eng, Kader PKS yang Mengguncang Dunia

Dr.Warsito Kader PKS
Inilah DR. Warsito P. Taruno, M.Eng, Ketua Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia, juga merupakan salah seorang pengurus DPP PKS, yang telah membuat heboh dunia ilmuwan dengan penemuannya '4D Brain Activity Scanne' atau alat pemindai otak 4 dimensi berbasis elektrik secara real time, yang telah dipublikasikan pada acara simposium internasional yang diselenggarakan IEEE, organisasi ilmiah profesional internasional TERBESAR di dunia, pada 7-11 April 2013.

Sebelumnya dia juga telah menemukan alat pembasmi kanker otak dan pembasmi kanker payudara. Bahkan alat pembasmi kanker payudara ciptaannya berhasil menyembuhkan penyakit kanker payudara Kakak Kandungnya yg sudah mencapai stadium IV.

Warsito adalah sedikit dari putra bangsa yang berhasil menunjukkan prestasinya di dunia internasional. Begitupun Warsito tetap punya rasa nasionalisme yang tinggi. Hal ini dia tunjukkan dengan rencana membuat lembaga riset di Indonesia. Bahkan temuan-temuannya sebagian besar dilakukan di Indonesia dengan tujuan tidak ada keterikatan tertentu dengan negara lain.

Contoh penemuannya untuk alat pemindai tubuh yaitu ECVT System. Dengan alat ini, proses pengecekan kesehatan akan mendapatkan hasil yang jauh lebih akurat dan lebih murah dibanding MRI atau CT Scan.

Dan tahukah anda dimana Warsito menciptakan alat ini? Hanya di sebuah ruko sewaan di Tangerang. Bukan di laboratorium canggih atau di pusat riset yang maju.



Kamis, 30 Januari 2014

Fahri Hamzah: "Angkat Saya Jadi Presiden, 1 Tahun Indonesia Bebas dari Korupsi"

Tokoh Nasional yang kini menjabat sebagai Anggota DPR RI dari Fraksi PKS yaitu Bang Fahri Hamzah, yang banyak orang mengatakan bahwa beliau ini sangat keras dalam berbicara dan ketika memaparkan argumennya, kalau menurut saya sih, biasa aja karena beliau punya latar belakang orang Timur yaitu dari NTB, karena saya pun juga dari timur dan punya watak biacara keras.
Akan tetapi menarik sekali jika kita lihat sepak terjang beliau ketika berbicara masalah hukum, padahal beliau ini gelar sarjana Strata satu dari Fakultas Ekonomi tetapi berbicara hukum sangat jelas dan beliau juga di DPR RI di Komisi 3 yang berkaitan dengan Hukum.
Fahri Hamzah

Saya pun heran kenapa bang Fahri ini hebat sekali bicara Hukum, padahal dulu sarjana ekonomi yang masuk PKS dan menjadi Anggota Legislatif, dan saya terus mencari Informasi tentang beliau yang ternyata beliau belajar Hukum dengan 2 orang professor hukum seperti Jimly Ashidiq yang merupakan mantan ketua MK dan satunya lagi Prof.Romli yang beliau ini juga sering diundang dicara ILC.

Ada satu hal yang membuat saya menjadi simpatik dengan beliau ketika diacara Debat Tv one dengan fadjroel Rahman, ketika itu pengamat politik itu menanya terkait kerja bang fahry di DPR dan statemen bang Fahry yang mau bubarkan KPK karena komisi ini tak punya integritas dan independensi yang jelas.

Ketika itu beliau mengeluarkan Statemen yang jarang dan mungkin nggak pernah dikeluarkan oleh Politikus lain dengan mengatakan “Angkat saya jadi presdien, maka 1 tahun Korupsi diindonesia akan hilang”. Maka saya pun menjadi berfikir bahwa kata serius dari beliau ini bisa jadi, karena yang terjadi sekarang adalah Kepemimpinan nomor satu diindonesia ini kurang tegas walaupun beliau punya background tentara, sehingga penegakkan hukum diindonesia menjadi tidak sehat.

Dan bang fahri juga mengatakan bahwasanya ada kesalahan berfikir dari pemerintah sekarang yang ingin memberantas Korupsi tapi tidak memperbaiki system hukum diindonesia, hingga walaupun ada ratusan tersangka korupsi maka tersangka ini akan tetap bisa bermain di ranah hukum jika Hukum diindonesia tidak sehat.
http://youtu.be/rpA7WC3CTF8

Minggu, 26 Januari 2014

Tifatul Ukir Sejarah Manis Di Akhir Jabatan Menkominfo

Jakarta - Meraup penerimaan Negara bukan pajak (PNBP) sebanyak Rp 13,59 triliun sepanjang 2013, Menkominfo Tifatul Sembiring mengukir sejarah manis di akhir masa jabatannya sebagai Menkominfo, mengingat pemerintahan baru akan terbentuk tahun depan.

Catatan PNBP tersebut tercatat sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Kementerian Kominfo. "Sampai akhir 2013, kami berhasil mengumpulkan PNPB Rp 13,59 triliun. Penerimaan ini adalah yang terbesar sepanjang sejarah kementerian," kata Menkominfo Tifatul Sembiring dalam Evaluasi Akhir Tahun Program Kementerian di kantornya, Jakarta, Jumat (27/12).

Dia menambahkan pencapaian penerimaan bukan pajak itu sama dengan 110,94 persen dari target yang telah ditetapkan. Selain itu, Tifatul juga mengungkapkan sepanjang tahun ini Kominfo hanya menggunakan anggaran Rp2,9 triliun saja.

Jumlah PNPB tahun ini mengalami kenaikan 17,3 persen dari PNPB 2012 yang mencapai Rp 11,58 triliun.

Tifatul mengatakan secara kontribusi PNPB, Ditjen SDPPI (Sumber Daya dan Perangkat dan Pos Informatika) memberikan pemasukan yang terbesar dengan Rp 10,8 triliun, terutama dari biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi. (merdeka)
MenKoMinFo - Tifatul Sembiring
 
 
 

Sabtu, 25 Januari 2014

Fahri “ini yang di depan sopir, yang di belakang bos nya!”

Saat Presiden Menjadi Supir

Depok – Ada kejadian unik usai acara Silaturahim Tokoh dan Relawan PKS Se-Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, Senin (20/1), di Hotel Bumi Wiyata (Hall), Depok, Jawa Barat. Setelah melayani permintaan berfoto bersama dan wawancara, Anis Matta berjalan menuju mobilnya. Tanpa payung, meski malam itu sedang hujan. Beberapa peserta silaturahim terlihat menyejajari langkahnya.

Kehebohan terjadi saat Anis memasuki mobil. Ternyata ia tidak duduk di ruang penumpang, melainkan di ruang kemudi. Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyetir mobilnya sendiri.
Tidak ada penjelasan resmi tentang tingkah Anis itu. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fahri Hamzah yang duduk di bangku penumpang, sempat berkelakar, “ini yang di depan sopir, yang di belakang bos nya!”. Sedangkan Anis hanya tersenyum membalas pandangan heran awak media yang meliput. Sambil melambaikan tangan, Anis menginjak pedal gas. Mobil yang ia kemudikan perlahan menuju antrian untuk keluar dari area parkir.

Pada acara yang dihadiri ribuan kader dan simpatisan PKS itu, Anis menekankan pentingnya melayani masyarakat. Ia mengajak seluruh kader dan simpatisan PKS untuk menjadi otak, hati, dan tulang punggung Indonesia. Dalam acara itu, hadir juga Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail, Wakil Walikota Bekasi Ahmad Saikhu, Sekretaris Jenderal PKS Taufik Ridho, Ketua DPW PKS Jawa Barat Tate Komarudin, Ketua DPD PKS Kota Depok M. Supariyono, dan seluruh anggota legislatif fraksi PKS DPRD Depok.

 


Kamis, 19 Desember 2013

INIKAH YANG DI GEMBAR GEMBORKAN MEDIA PARTAI KORUPSI SAPI?

Kemenangan beruntun di 37 Pilkada sebelum dan pasca kriminalisasi tanpa bukti LHI, rakyat yang cerdas . Berikut 50 Pilkada yang 37 di antaranya dimenangkan oleh kader PKS: 
1. Kab. Bangka Barat, Babel : H. Parhan – Zuhri M. Syazili (PKS saja) 
2. Kab. Serang , Banten : Taufik Nur Iman – Andi Sujadi (Koalisi) 
3. Kota Depok, Jabar : Nur Mahmudi Ismail – Yuyun Wirasaputra (PKS saja) 
4. Kab. Halmahera Selatan, Maluku : M Kasuba – Rusdi (PKS saja) 
5. Kab. Kepulauan Sula : Nurdin Uma Sangaji – Zulfitra Budiana Dwila (Koalisi) 
6. Kab. Kep. Riau, Kepri : Ansar Ahmad – Mastur Thaher (Koalisi) 
7. Kab. Lampung Timur, Lampung : Satono – Noverisaman Sumbing (PKS saja) 
8. Kota Banjarmasin, Kalsel : H. Ahmad Yudi Wahyni – Alwi Sahlan 
9. Kab. Halmahera Barat, Maluku : Iskandar M Djae – Alpinus K. Pay (koalisi) 
10. Kota Ternate, Maluku : Wahyudin Labaso – (koalisi) 
11. Kab. Pangkajene Kepulauan : Syafrudin Nur – Kemal Burhanudin (koalisi) 
12. Kab. Sukabumi, Jabar : Sukmawijaya – Marwan Hamami (koalisi) 
13. Kab. Muko-muko, Bengkulu : Ichwan Yunus – Supardji (koalisi) 
14. Kab. Sumbawa, NTB : Jamaluddin Malik – M. Jabir (koalisi) 
15. Kab. Purbalingga, Jabar : Triyono Budi – Heru Sudjatmiko (koalisi) 
16. Kota Semarang, Jateng : Sutawi Sutarip – Mahfudz Ali (koalisi) 
17. Kab. Luwu Utara : Luthfi A. Mukti – Arifin Junaidi (koalisi) 
18. Kab. Seram Timur : Abdullah Can Fath – Siti Umuria (koalisi) 
19. Kab. Limapuluh Koto : Amri Darwis – Irfendi Arbi (koalisi) 
20. Prov. Jambi : Zulkifli Nurdin - Hasan Basri Agus (koalisi) 
21. Kab. Ngawi : Harsono – Budi Sulistyono (koalisi) 
22. Prov. Kep. Riau : Ismet Abdullah – M. Sani (koalisi) 
23. Kab. Merauke, Papua : Johanes Gluba Gebze – Waryoto (koalisi) 
24. Kab. Keerom, Papua : Yusuf Wally – Budi Setyanto (koalisi) 
25. Kota Dumai : Zulkifli AS – Sunaryo (koalisi) 
26. Kab. Banjar Baru : Rudi Resnawan - (koalisi) 
27. Kab. Bulungan : Ir. Safek Efendi - (koalisi) 
28. Kab. Kota Baru : Syahrani Mateja - (koalisi) 
29. Prov Sumut : Gatot Pujo Nugroho-Tengku Erry Nuryadi 
30. Kab. Garut : Rudy Gunawan-Helmi Budiman 
31. Kab. Luwu : Andi Mudzakkar-Amru Kathem Al Saher 
32. Kab. Pinrang : Aslam Patonangi–Darwis Bastama 
33. Kab. Jeneponto : Iksan-Mulyadi 
34. Prov. Jabar : Ahmad Heryawan-Dedi Mizwar (PKS saja) 
35. Kab. Seruyan : Sudarsono-Yulhaidir 
36. Kota Sukabumi : M. Muraz - Achmad Fahmi (koalisi) 
37. Kota Salatiga : Yuliyanto-Haris (koalisi)

Sabtu, 14 Desember 2013

LHI Berbahaya, Vonis 16 Tahun Dirasa Belum Cukup

Malang betul nasibmu pak Luthfi..!! Itu mungkin yang terpikir dalam benak kebanyakan masyarakat dan kader PKS. Tapi tahukah kita bagaimana beliau menghadapi semua tuntutan yang ditunjuk ke muka beliau. “Ah, saya kira 20 tahun!”. Orang biasa mungkin akan memberontak di depan hakim ketika ia terbukti tidak bersalah tapi tetap divonis oleh majelis hakim planet alien ini dengan vonis 16 tahun penjara. Berbeda dengan beliau, beliau bukan orang biasa. 
Beliau orang yang “berbahaya”, makanya 16 tahun sebenarnya belum cukup untuk menghentikan sepak terjangnya. Pak Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) tentu sudah memahami segala resiko yang akan dia terima jauh sebelum ia terjun ke dunia politik. Berkaca dari para pendahulu sebelumnya. Di mana setiap orang yang berani mengusung panji agama dalam urusan politik pasti akan dijebloskan ke dalam penjara dengan mudah. Karena hukum di dunia ini memang tidak akan pernah berpihak kepada yang namanya kebenaran. Mereka hanya berpihak pada Penguasa, Empunya Harta dan Nafsu Hakim Saja. Hukum telah lupa dengan Tuhan Yang Maha Esa. LHI memang orang berbahaya. Tentunya bukan bagi masyarakat, tetapi bagi para penguasa dan segenap elit politik di dekatnya. Kegigihan LHI dan kawan-kawannya membongkar kasus mafia hukum, mafia peradilan, mafia pajak dan banyak kasus lainnya yang hampir saja menjilat lantai Istana tentunya tidak dapat dibiarkan begitu saja. Ini sebagai sebuah peringatan keras bagi orang yang beritikad baik untuk negeri ini. Tidak dari PPP, PDI, PKS atau dari partai mana saja. 
Kalau mereka masih berani memadamkan api, maka api itu akan segera dilempar ke muka mereka. Sudah berapa banyak tokoh-tokoh dari partai Penguasa yang dinyatakan sebagai tersangka suap, korupsi dan sebagainya. Sampaikah hukumannya 16 tahun? Asalkan mereka tidak bermain api di halaman istana, maka akan aman-aman saja. KPK, beranikah jujur? Hebaatt…!! Ibarat sebuah mainan, kalau dibuat jangan sampai membahayakan pemiliknya. Anjingpun dilatih agar tidak boleh mengigit majikannya. Seekor beruk dilatih memanjat pohon demi kepentingan majikannya. KPK yang diinisiasi oleh penguasa, tidak boleh membahayakan majikannya. 
Pernahkan kita melihat KPK berinisiatif untuk memeriksa presiden dan keluarga ketika banyak jari menunjuk kepadanya. Beranikah? Tidak..! Tapi dengan semangat 45 melayani para elit politik dari partai penguasa ketika menunjuk LHI sebagai tersangka. Padahal Fatonah yang awalnya terpaksa mengatakan duitnya untuk LHI karena dipaksa Novel Baswedan sebagai penyidik KPK (Pengakuan Fatonah yang tidak pernah dipublish media kecuali di ILC TV ONE) sudah menyesali dan minta maaf kepada LHI, dia berkata jujur karena dalam keadaan dipaksa. Pemilik PT. Indoguna pun demikian halnya, tidak mengatakan uangnya untuk suap kuota Sapi. Lalu di mana masalahnya? Ya tidak ada masalah..LHI tidak terbukti, dan berhak bebas. Tapi kenyataannya mengejutkan. Beliau divonis 16 tahun penjara. Tidak terbukti, tidak merugikan negara, tidak tertangkap tangan, dan tidak pula menerima uang, tapi hartanya disikat, keluarganya ditelantarkan, bisnisnya dimatikan, lalu dipenjara 16 tahun. Ini namanya Zholim… Ini bukan merupakan hal baru dan asing bagi kita. 
Kita tahu, kaum muslimin di Mesir ribuan orang dizolimi oleh penguasa dengan segala tuduhan fitnahnya, lalu dipenjara seumur hidup, LHI tahu persis itu. Tidak lain, masalahnya karena masyarakat Mesir menentang penguasa yang zolim yang telah membunuhi 5000 lebih rakyatnya. Maka makar hukum di Indonesia ini memang masih termasuk kezoliman kelas teri dibandingkan dengan mereka. Tapi sebesar apapun kezoliman itu haruslah bagi kita untuk membereskannya, jika tidak teri itu bisa saja termakan hormon pertumbuhan yang menyebabkannya membesar sebesar paus. Itulah resiko berbeda arus dengan penguasa. Saya yang menulis artikel ini saja, bisa saja dipenjara dengan tuduhan yang tidak masuk akal ketika kita berbeda dengan mereka. Anda yang santai di rumah, pergi ke Masjid saja bisa saja berbalik menjadi teroris dan dibunuh. Tidak ada kata aman sampai kita mendapatkan pemimpin yang beres, benar dan berani. Kini LHI, lalu siapa selanjutnya? Siapa saja yang memiliki itikad baik untuk perbaikan bangsa ini, melawan korupsi, dan memberantas kezoliman bisa jadi jadi korban selanjutnya. 

 Kasus LHI sebagai shock therapy bagi PKS dan partai lainnya, pesannya jangan berani menentang Penguasa ! titik..!! Jikalau PKS atau partai lain tetap untuk melakukan hal tersebut, maka tunggu saja gilirannya. Kasus bisa dibuat, makar bisa dicari, dan korban yang harus siap diri. Saya tidak bisa menahan amarah dan kekesalan saya selain menumpahkannya melalui artikel ini. Itulah posisi yang lebih aman, walaupun sebenarnya belum aman. Mengkritik penguasa dan penegakan hukum di Indonesia. Karena saya cinta Indonesia, dan saya telah mewakafkan diri untuk berbakti pada nusa, bangsa dan agama ini. Apapun yang terjadi, bagi anda pecinta keadilan harus dihadapi. Jeruji besi bukan sebuah hal yang menakutkan. Hanya membatasi antara kita dan manusia, tetapi kita tetap bisa berinteraksi dengan Allah. Kita bisa membuat perubahan juga walaupun dari dalam jeruji besi.
 Nabi Yusuf AS merupakan alumni jeruji besi, Muhammad Mursi adalah Alumni jeruji besi, dan Erdogan juga alumni jeruji besi. Kenapa SBY diam saja? Bodoh sekali kalau kita pertanyakan hal ini. Walaupun presiden sedikit banyaknya bisa mengambil peran dalam meluruskan peradilan hukum di Indonesia, tentu saja beliau akan acuh saja dengan kondisi LHI. Memang siapa LHI? Sohib gua? No way Hakim sedang mabuk ? Jawabannya mungkin iya. Sudah bukan rahasia umum kalau Hakim negeri ini bisa dihitung dengan jari yang memiliki integritas dalam menegakkan hukum di Indonesia. Hakim tertangkap narkoba sudah ada. Hakim yang menerima suap? 
Banyak. Bahkan kami pernah dimintai oleh hakim segepok uang kalau ingin teman kami yang terlibat kasus kekerasan jika ingin bebas. Alhasil, keluarga korban yang berhasil menyuap, sehingga teman kami harus mendekam 6 tahun di penjara, yag seharusnya hanya beberapa bulan saja. Memang dia salah, tapi hakim yang meminta duit lebih salah lagi. Hakim yang mengadili LHI ini, mudah-mudahan Allah menyadarkan mereka, menyisipkan rasa takut ketika bertindak zholim, atau jika tidak juga mau berubah maka marilah kita berdo’a agar Allah menghukumnya di dunia dan akhirat. Tentu saja mereka bukan orang yang buta akan fakta persidangan yang membuktikan bahwa LHI tidak bersalah, tetapi di belakang persidangan tak tahulah kita. Mungkin di masa depan, kita perlu berhakim dengan robot saja yang diprogram khusus dengan perhitungan yang matang untuk memutuskan hukuman berdasarkan fakta yang ada. Itu lebih adil daripada hakim negeri ini.

Oleh : Apriza Hongko Putra 
 

Kamis, 12 Desember 2013

Anis Matta, Presiden Partai Yang Naik Pesawat Selalu Kelas Ekonomi


Pemilu 2014 bagi sebagian partai politk dan politisi bisa jadi menjadi ajang jor-joran untuk kampanye. Namun itu tidak berlaku bagi Presiden PKS Anis Matta. Sejak memimpin PKS pada awal Februari 2013 lalu, Anis menerapkan prinsip ekonomi dalam mengelola partai.

Bukan tanpa sebab sikap ekonomis dalam menjalankan roda organisasi partai yang dilakukan Anis Matta. Selain aturan KPU yang membatasi alat peraga bagi kandidat legislator maupun partai politik, pendanaan partai menjadi persoalan tersendiri bagi partai yang memiliki tiga kader yang menjadi menteri di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II ini. "Kita kesulitan dana," beber Anis Matta saat jumpa jurnalis di Jakarta, Kamis (5/12/2013).

Anis menyebutkan salah satu yang ia terapkan sejak dirinya menjadi Presiden PKS dengan naik pesawat kelas ekonomi di semua jenis maskapai penerbangan saat melakukan kunjungan ke daerah. "Perjalanan kunjungan ke daerah tidak ada kelas bisnis. Semua jenis maskapai penerbangan kita pakai," ungkap Anis.

Tidak hanya itu, Anis menyebutkan selama kunjungannya di 30 wilayah di Indonesia sejak menjadi Presiden PKS, tidak hanya mengandalkan moda transportasi pesawat saja "Tapi kita juga pakai laut, darat, asal nyampe lokasi," ujar Anis.

Selain melakukan penghematan perjalanan, Anis juga menekankan pihaknya mengurangi pertemuan yang sifatnya massal yang membutuhkan anggaran besar. "Prinsipnya kita bikin kegiatan kecil tapi langsung mengena masyarakat. Kegiatan murah dan hasil patungan kader," urai Anis. (inilah)

Sabtu, 07 Desember 2013

Politik dan Sejarah

POLITIK bisa punya banyak makna dan kebanyakan dari pemaknaan itu bertalian dengan kekuasaan. Tidak salah, tetapi saya ingin membahas politik dari sudut pandang yang berbeda. Saya ingin memahami politik sebagai  ”industri” pemikiran.Sebagai bursa pemikiran, politik bertugas memberi arah bagi kehidupan masyarakat. Politik terancam gagal jika masyarakatnya mengalami rasa kehilangan arah yang dituju (sense of direction). Hilangnya sense of direction tersebut tampak dari suasana hati publik (public mood) yang diwarnai kemarahan dan kecemasan kolektif, menggantikan kepercayaan dan harapan kolektif mereka.
 
Agar dapat menjalankan tugas memberi arah itu, politik—dalam arti kehidupan politik secara keseluruhan—harus mampu memahami, merekam, dan menangkap perubahan fundamental yang terjadi di tengah masyarakat serta memberi arah yang benar bagi perubahan itu.
 
Jika kita melihat rentang sejarah, dinamika perubahan sosial merupakan interaksi empat elemen: manusia, ide, ruang, dan waktu. Manusia adalah pusat perubahan karena merupakan pelaku atau aktor di mana ruang dan waktu merupakan panggung pertunjukannya. Ide jadi penggerak manusia dalam seluruh ruang dan waktunya. Setiap kali ada perubahan yang penting dalam ide-ide manusia, kita akan menyaksikan perubahan besar dalam masyarakat mengikutinya.
 
Manusia bergerak dalam ruang dan waktu secara dialektis, antara tantangan dan respons terhadap tantangan tersebut. Ide atau gagasan yang memenuhi benak manusia merupakan manifestasi dari dinamika dialektis itu. Hidup manusia bergerak dan terus bertumbuh karena merespons tantangan di sekelilingnya. Hasil dari respons baru tersebut selanjutnya melahirkan tantangan-tantangan baru yang menuntut respons-respons baru. Begitu seterusnya.

 Dalam perspektif itulah, politik bertemu dengan sejarah. Sejarah adalah cerita tentang manusia di tengah seluruh ruangnya dalam rentang waktu yang panjang. Sejarah adalah cerita tentang tiga orang: orang yang sudah meninggal, orang yang masih hidup, dan orang yang akan lahir. Jika politik ingin memahami drama perubahan sosial secara komprehensif, politik harus memahami cerita tentang tiga orang itu. Politik menjadi dangkal jika ia hanya memahami cerita tentang satu orang, yaitu orang yang masih hidup. Itu adalah jebakan kekinian, di mana kita tampak seperti telah menyelesaikan masalah hari ini ketika sebenarnya yang kita lakukan justru memindahkan beban masalah itu kepada generasi yang akan lahir esok hari.
 
Berpijak pada sejarahJika sejarah adalah cerita tentang hari kemarin, hari ini, dan hari esok, sejarah bukan saja metode untuk memahami masa lalu dan masa kini, melainkan juga menjadi jalan paling efektif menemukan alasan untuk tetap berharap bahwa esok hari cerita hidup kita akan lebih baik.
 
Membaca sejarah adalah cara menemukan harapan. Harapanlah yang membuat kita rela dan berani melakukan kebajikan-kebajikan hari ini walaupun buah kebajikan itu akan dipetik mereka yang baru akan lahir esok hari. Tugas politik adalah memberi arah bagi kehidupan masyarakat agar mereka merasa memiliki satu arah yang dituju, memiliki orientasi. Rasa memiliki arah ini merupakan sumber kepercayaan diri dan harapan yang kuat bagi masa depan.
 
Sebaliknya, chaos dan anomi membuat orang merasa tersesat dan limbung. Untuk dapat menemukan arah itulah, kehidupan politik harus berpijak pada sejarah. Berpijak pada sejarah tidak berarti melulu melihat ke belakang atau memuja kejayaan masa lalu; berpijak pada sejarah harus dimaknai sebagai keyakinan merancang masa depan.

 Muatan sejarah menghindarkan politik dari kedangkalan dan membawanya pada kedalaman kesadaran. Dengan memahami sejarah, politik akan bergeser dari pandangan sempit sekadar berebut kekuasaan menuju keluasan cakrawala pemikiran, dari sekadar perdebatan mengurusi kenegaraan menjadi perbincangan arsitektur peradaban.

 Pertanyaan yang segera menghadang kita adalah apa yang akan terjadi pada Pemilu 2014? Apakah pesta demokrasi tahun depan itu sekadar menjadi ajang peralihan kekuasaan secara damai, sesuatu yang business as usual di dalam demokrasi?
 
Pemilu 2014 adalah momentum peralihan sejarah yang didorong oleh perubahan struktur demografis Indonesia. Penduduk berusia 45 tahun ke bawah mencapai sekitar 60 persen dari populasi. Bukan sekadar mendominasi dari segi jumlah, kelompok ini bercirikan pendidikan yang tinggi, kesejahteraan yang membaik, dan terkoneksi dengan dunia luar melalui internet. Kita juga menyaksikan lahirnya native democracy, yaitu mereka yang sejak lahir hanya mengenal demokrasi. Pemilih pemula yang berusia 17 tahun pada 2014 adalah mereka yang lahir pada 1997. Mereka tidak merasakan perbedaan suasana otoriter pada masa Orde Baru dengan kebebasan pada masa kini. Bagi mereka, demokrasi dan kebebasan adalah sesuatu yang terberi (given) dan bukan hasil perjuangan berdarah-darah.
 
Mayoritas baru ini memerlukan jawaban baru dari partai politik. Ada hal-hal yang akan dianggap usang. Mereka ingin melihat visi dan agenda baru. Untuk menjawab tantangan itu, politik harus bisa mendefinisikan di mana kita berada sebagai sebuah bangsa dan sebuah entitas peradaban sekarang ini. Sejumlah gelombang sejarah telah kita lalui sebagai negara-bangsa dan banyak pelajaran penting yang dapat kita sarikan. Pertanyaan mendasar ini menghindarkan kita dari jebakan kedangkalan politik. Sejarah adalah  kompas bagi politik dalam mengarungi masa yang akan datang.
 
M Anis Matta, Presiden Partai Keadilan Sejahtera

Kamis, 05 Desember 2013

Boediono Pilih Mana, Pemakzulan DPR atau Tersangka KPK?

JAKARTA – Anggota Tim Pengawas (Timwas) Century DPR, Fahri Hamzah, menjelaskan ada dua versi nasib bagi mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang kini menjabat Wakil Presiden (Wapres) Boediono dalam kasus Century.

Dua versi tersebut yaitu dijadikan tersangka Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atau menghadapi sidang pemakzulan (impeachment) di DPR.

“Harusnya KPK katakan kepada Pak Boediono sebagai tersangka atau urusan selanjutnya ke dewan,” kata Fahri di gedung DPR, Jakarta, Jumat (6/12/2013).

Menurut Fahri, ada dua versi nasib Boediono dalam kasus Century. Versi pertama langsung ke Pengadilan Tipikor menghadapi kasus Century.

“Atau versi kedua karena dia bukan sebagai warga negara biasa (sebagai Wapres) maka dibawa ke Dewan untuk menghadapi impeachment,” kata Fahri.

Menurut dia jika dalam sidang impeachment tidak bersalah maka masalah Boediono bisa selesai.
“Jadi tak usah takut,” kata Politisi PKS ini.

Fahri menyebut tidak ada yang lebih baik buat Boediono untuk hadir dalam sidang impeachment DPR. “Tidak ada yang lebih baik buat Pak Boediono menghadiri sidang impeachment sekarang.
Yang kita minta Pak Boediono tolong pikirkan dirinya sebab ini buruk bagi dirinya. Yang terbaik bagi Pak Boediono adalah menghadapi ini sekarang.”

Rabu, 04 Desember 2013

PKS: Pemira Praktik Politik Berbiaya Murah

JAKARTA -- Ketua DPP PKS Indra mengklaim bahwa Pemilihan Raya (Pemira) yang dilakukan partainya untuk menjaring bakal calon presiden merupakan praktik politik berbiaya murah dan berbeda dengan sistem penjaringan capres partai lain.

"Pemira ini berbeda dengan sistem konvensi yang dilakukan partai lain karena biayanya nol rupiah," kata Indra di Jakarta, Rabu. Indra menjelaskan bahwa dalam sistem Pemira yang dijalankan tidak ada kampanye, tidak ada sosialisasi, dan tidak ada mobilisasi massa oleh salah satu calon. Hal itu, menurut dia, akan mendapatkan hasil yang nyata karena suara aspirasi secara murni muncul dari kalangan kader PKS.

"Dari 22 kandidat tidak ada kampanye karena itu hasilnya akan asli. Hal itu berbeda dengan pola partai lain karena hasil yang keluar sejauh mana calon mampu memobilisasi massa sehingga hasilnya tidak asli," ujarnya.
Dia mengatakan sistem Pemira bagi PKS bukan hal baru karena sudah sering digunakan misalnya untuk memilih Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS, memilih calon gubernur untuk dimajukan dalam Pemilihan Kepala Daerah.

Sistem itu, menurut dia, untuk menampung aspirasi dari para kader sehingga keterlibatan kader sangat terlihat untuk menentukan kebijakan partai.
"Karena wacana capres begitu massif maka DPP PKS membuat keputusan untuk Pemira. Hal itu dalam rangka menampung aspirasi kader dan akan dilihat siapa yang terbaik menurut kader PKS tapi nanti Dewan Syuro yang memutuskan calon itu ditetapkan menjadi capres PKS," katanya.
Menurut Indra, saat ini belum ada hasil akhir lima nama yang akan diberikan ke Majelis Syuro karena belum di rekapitulasi akhir di semua wilayah.

Namun dia mengatakan paling tidak ada empat nama yang banyak muncul yaitu Presiden PKS Anis Matta, Ketua Fraksi PKS di DPR Hidayat Nur Wahid, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriyawan, dan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring. "Namun tetap nama tiga besar tidak bergeser yaitu Anis Matta, Hidayat Nur Wahid, dan Ahmad Heriyawan," ujarnya.

Namun dia menekankan belum pasti urutan pertama hasil Pemira akan menjadi capres PKS karena semuanya diserahkan pada Majelis Syuro partai.

PKS pada 30 November 2013 melaksanakan Pemira untuk menjaring calon presiden dari internal partai. Mekanismenya, setiap kader diminta memilih satu dari 22 nama yang telah dianggap memenuhi syarat sebagai calon.
republika.co.id

Pengacara Luthfi " Nilai Dakwaan Jaksa Gugur"

Tim Pengacara terdakwa Luthfi Hasan Ishaaq menilai dakwaan dan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) gugur atau batal demi hukum. Demikian, inti dari isi pledoi (nota pembelaan) milik penasehat hukum Luthfi yang akan dibacakan dalam sidang lanjutan perkara dugaan suap penentuan kuota impor daging sapi di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (4/12) pukul 15.00 WIB.

Salah satu penasehat hukum Luthfi, Zainuddin Paru memaparkan bahwa dalam persidangan sudah jelas bahwa dakwaan jaksa tidak terbukti dan tidak dapat dibuktikan.

Menurut Paru, Jaksa gagal membuktikan bahwa uang Rp 1,3 miliar yang terbagi menjadi dua tahap adalah uang muka untuk kliennya dari PT Indoguna Utama agar membantu permohonan penambahan kuota impor daging sapi.

"Fakta persidangan terbukti tindak pidana korupsi tidak bisa dibuktikan oleh jaksa KPK karena ada alat bukti yang gugur dalam sidang," tegas Paru ketika dihubungi, Rabu (4/12).

Alat bukti yang gugur tersebut adalah percakapan antara Ahmad Fathanah dengan sopirnya, Syahrudin yang terbukti tidak menyebutkan nama Luthfi.

Menurut jaksa, dalam rekaman pembicaraan tersebut Fathanah meminta Syahruddin menjaga mobil di parkiran Hotel Le Meredien, Jakarta, sebelum penangkapan oleh KPK karena ada daging busuk milik Luthfi Hasan Ishaaq.

Tetapi, ujar Paru, terbukti dalam persidangan bahwa kata-kata daging busuk milik Luthfi tidak ada. Sehingga, uang berjumlah kira-kira Rp 1 miliar dalam mobil tersebut bukanlah milik Luthfi.

Selanjutnya, Paru mengungkapkan bahwa dari persidangan terbukti bahwa uang sebesar Rp 300 juta yang dikatakan bagian dari Rp 1,3 miliar untuk Luthfi, ternyata tidak sampai ke tangan eks Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.

"Uang Rp 300 juta pertama diberikan PT Indoguna kepada Elda Devianne Adinigrat (makelar). Oleh Elda uang tersebut diberikan ke Roni untuk menambah modal proyek PLTS di Kementerian Perumahan dan Daerah Tertinggal (PDT)," tegas Paru.

Kemudian, papar Paru, uang Rp 1 Miliar yang diterima Fathanah tanggal 29 Januari 2013 dari PT Indoguna, juga dapat dibuktikan bukan untuk Luthfi. Melainkan, untuk membayar cicilan mobil dan furniture.

"Uang sebesar Rp 1 miliar yang dibawa Fathanah dibagi menjadi beberapa peruntukan. Pertama, untuk Maharani Suciyono Rp 10 juta. Kemudian, Rp 10 juta diletakkan dalam tas kecil Fathanah," jelas Paru.

Selanjutnya, sebesar Rp 400 juta rencananya untuk membayar cicilan pembelian mobil Mercy C200. Terbukti, Fathanah memiliki janji dengan Felix Rajani, mantan sales marketing William Mobil di Hotel Le Meridien, Jakarta, pada tanggal 29 Januari itu juga.

Tetapi apesnya sebelum sempat membayar cicilan, Fathanah tertangkap penyidik KPK terlebih dahulu.

Selain itu, Fathanah juga terbukti memiliki janji dengan Ilham pada tanggal dan tempat yang sama untuk membayar pemasangan furnitur sebesar Rp 489 juta.

Itu artinya, tegas Paru, sudah jelas bahwa uang Rp 1 miliar yang dibawa Fathanah bukan untuk kliennya. Sehingga, terhadap Luthfi tidak bisa dituntut dan didakwa melakukan tindak pidana korupsi.

"Karena tindak pidana korupsi tidak terbukti, maka tidak ada predicate crime (tindak pidana asal) yang menjadi dasar menuntut pak Luthfi dalam perkara pencucian uang," ujar Paru.

Fathanah Bermain Sendiri

Sebaliknya, kubu Luthfi menuding bahwa Fathanah menggunakan nama Luthfi yang ketika itu menduduki kursi tertinggi di PKS untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Menurut Paru, terlihat ada upaya memanfaatkan Luthfi yang memang fokus terhadap mahalnya harga daging dan peredaran daging tikus ataupun celeng di masyarakat.

"Pak Luthfi tidak memiliki kewenangan terkait penentuan kuota impor daging sapi. Apalagi, dengan adanya perubahan kewenangan, yaitu kuota impor ditentukan dalam rapat antara Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan di bawah koordinasi Kementerian Perekonomian," ujar Paru.

Oleh karena itu, tegas Paru, semakin jelas bahwa Fathanah bermain sendiri terkait kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian.

Seperti diketahui, Luthfi dituntut dengan pidana selama 18 tahun penjara, dalam perkara suap dan pencucian uang terkait penambahan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian (Kemtan).

"Menuntut supaya majelis hakim menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa Luthfi Hasan Ishaaq selama 10 tahun dalam tindak pidana korupsi, dan 8 tahun dalam tindak pidana pencucian uang," kata Jaksa Rini Triningsih, membacakan surat tuntutan Luthfi, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (27/11).
Dalam pertimbangannya, jaksa mengatakan Luthfi turut serta melakukan perbuatan bersama-sama Ahmad Fathanah dalam kurun waktu antara tanggal 5 Oktober 2012 hingga 29 Januari 2013, atau setidaknya pada waktu tertentu dalam bulan Oktober 2012 hingga Januari 2013 menerima hadiah atau janji berupa uang sebesar Rp 1,3 miliar dari Maria Elizabeth Liman selaku Dirut PT Indoguna Utama, melalui Arya Abdi Effendi dan Juard Effendi.

Selaku anggota DPR dan Presiden PKS, LHI dianggap mempengaruhi pejabat di Kemtan yang dipimpin Mentan Suswono, untuk menerbitkan surat rekomendasi persetujuan pemasukan atas permohonan kuota impor daging sapi 10.000 ton untuk tahun 2013 kepada PT Indoguna.
www.suarapembaruan.com

Selasa, 19 November 2013

" Cita-Cita Peradaban " Oleh Anis Matta

Cita-Cita Peradaban


Ini adalah terjemahan, implementasi dari apa yang disebutkan oleh Imam Hasan al Banna sebagai cita-cita tertinggi dakwah kita, yaitu Ustaziatul Alam. Kita semua ditakdirkan hidup pada suatu era, dimana peradaban barat dengan semua filosofinya, di mana filsafat materialism tidak lagi mampu memberikan semua unsur yang diperlukan oleh ummat manusia untuk berbahagia.

Sekarang ini ada kekeringan yang luarbiasa. Dan itu sebabnya mengapa peradaban barat hanya mengandalkan dua kekuatan utama untuk mempertahankan hegemoninya. Pertama adalah senjata. Kedua adalah uang. Selain itu mereka tidak punya daya tarik apa-apa.

Ini semua merupakan tanda-tanda mengapa janji Rasulullah shalallahu alaihi wa salam in syaa Allah akan menjadi kenyataan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Tahukah antum apa janji Rasulullah saw., dalam perang Khandak? Rasulullah saw., bersabda, “Latuftahannarrum”. Romawi in syaa Allahkan akan dibebaskan. Sahabat Rasulullah bertanya, “Ayyuhuma tuftaahu ya Rasulullah?” (mana yang lebih dulu dibebaskan wahai Rasulullah? Romawi Timur atau Romawi Barat?) Rasulullah saw., mengatakan Madinatu Hiroklus, kotanya Heraklius terlebih dulu. Janji ini baru menjadi kenyataan 700 tahun kemudian.

Tetapi jauh sebelum 700 tahun itu Rasulullah saw., bersabda, “Latuftaahunnal Constantiniyyah walani’mal jaisyu jaisyuha, wala ni’mal amiru amiruha.” Konstantinopel pasti akan dibebaskan. Dan sebaik-baik pasukan jihad yang pernah ada adalah pasukan yang membebaskan Konstantinopel. Sebaik-baik komandan perang yang pernah ada adalah komandan perang yang dipimpin pembebasan Konstantinopel.

Konstantinopel dibebaskan oleh seorang anak muda, Muhammad al Fatih yang berumur 23 tahun. Jadi kalau ada di antara kita yang berumur lebih dari 23 tahun jangan lagi pernah merasa muda. Kita sudah terlalu tua. Karena prestasi-prestasi besar itu diraih oleh para pendahulu kita di saat mereka masih terlalu muda. Muhammad al Fatih telah menjadi khalifah pada saat beliau berumur 16 tahun.

Nah ikhwah sekalian, potongan kedua dari janji Rasulullah ini yaitu Roma dan Vatikan belum terwujud. Tetapi jaraknya sudah hampir sama dengan jarak janji Rasulullah yang telah terwujud, sudah lebih dari 500 tahun.

Yang membuat peradaban barat sekarang ini belum runtuh seperti yang diramalkan oleh banyak orang, adalah karena belum ada satu peradaban alternative yang muncul menggantikan mereka. Dunia Islam sekarang ini belum terkonsilidasi.
Kita ditakdirkan hidup di era ini. Era ketika cita-cita ini kita kumandangkan, era ketika umat manusia semuanya menantikan kehadiran kita.

Kita semua berharap bahwa pada suatu waktu potongan sirah yang pernah kita baca bukan hanya periode Mekah tetapi juga periode Madinah. Bukan hanya awal-awalnya periode Madinah di mana kita terlibat dalam perang Badar atau perang Uhud atau perang Khandak, tetapi kita ingin masuk lebih jauh lagi, zaman di mana Rasulullah saw., menulis surat kepada seluruh raja-raja yang ada di muka bumi ketika itu, yang isinya, “Aslim taslam walakal ajru marratain.” Masuklah ke dalam Islam dan engkau akan mendapat dua pahala.

Ketika kita masih merupakan sebuah pergerakan, cara kita berdakwah kepada orang adalah seperti cara nabi Musa. Yaitu, “idzhaba ilaa fir’auna faquula lahu qaulan layyinan.” Pergilah kalian kepada Fir’aun dan katakanlah kepadanya perkataan yang lembut. Tetapi ketika kita mempresentasikan diri sebagai sebuah Negara, cara kita berdakwah adalah seperti yang dilakukan oleh nabi Sulaiman, ketika beliau mengirim surat kepada Balqis, “Innahu min Sulaiman wa innahu bismillahirrahmaanirrahiim. Alla ta’lu alaiyya wa tu’ni muslimin.” Surat ini datangnya dari Sulaiman, datangnya dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jangan coba-coba membangkang padaku, datanglah padaku dalam keadaan menyerahkan diri. Begitulah cara diplomasi Negara dilakukan.

Kita ingin pada sisa umur kita nanti, bahwa kita semua akan menyaksikan surat-surat seperti itu dikirim kepada seluruh Negara-negara lain yang ada di muka bumi. Kita ingin mengatakan kepada mereka semua, in syaa Allah, “Aslim taslam walakal ajru marratain.” Atau kita katakan kepada mereka, “Innahu min hizbil ‘adalah, innahu mun Indonesia, ini adalah dari kaum Muslimin di Indonesia wa innahu bismillahirrahmaanirrahiim, alla ta’lu alaiyya wa tu’ni muslimin.”

Kita berharap ikhwah sekalian, bahwa pada suatu periode dari sisa-sisa umur kita, kalau bukan kita yang melakukannya, setidak-tidaknya anak-anak kita atau cucu-cucu kita, masih sempat menyaksikan surat-surat itu. In syaa Allah. Kita berharap bahwa surat-surat seperti itu bisa kita saksikan. Dan bahwasanya peradaban dunia menyaksikan bangkitnya kembali Islam yang berbahasa kepada mereka, mengatakan kepada mereka, hanya inilah jalan bagi kalian untuk berbahagia dan hanya inilah jalan bagi kalian untuk mendapatkan kedamaian di dunia ini.

Tetapi ikhwah sekalian, cita-cita besar itu harus kita mulai dari hal-hal yang kecil-kecil. Itulah sebabnya Rasulullah saw., pertama kali membangun basecamp nya di Madinah. Kemudian memperluasnya kepada seluruh jazirah Arab. Begitu beliau selesai dari jazirah Arab, usianya tutup. Tapi sebelum beliau tutup usia, beliau mengutus sebuah pasukan yang dipimpin oleh seorang anak muda berumur 16 tahun, namanya Usamah bin Zaid.

Jadi ketika Rasulullah saw., berumur 63 tahun, seakan-akan beliau mengatakan, “Sekarang tugas kehidupan saya sudah selesai dan saya akan menuju kepada kehidupan lain yang lebih abadi. Tetapi hari ini, ada pasukan baru yang memimpin kehidupan yang baru, yaitu Usamah bin Zaid, anak muda berumur 16 tahun.”

Antum tahu semuanya, runtuhnya peradaban besar itu bukan karena dia dihancurkan oleh peradaban besar lainnya yang sama besarnya. Tapi runtuhnya peradaban besar itu persis sama dengan cara matinya Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman meninggal ketika beliau sedang shalat, tapi beliau tidak jatuh, tidak ada yang tahu bahwa beliau meninggal karena tongkatnya menyangga beliau. Beliau ketahuan meninggal setelah ada rayap yang memakan tongkatnya, kemudian tongkatnya itu habis baru beliau jatuh. Barulah orang semua tahu termasuk jin-jin beliau sendiri. Bahwa beliau telah meninggal.

Minggu, 10 November 2013

Orasi Presiden PKS Untuk kader PKS Gorontalo

          Assalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ikhwan dan akhwat sekalian, para calon anggota dewan yang saya hormati, khususnya para pimpinan DPW di Gorontalo dan juga Ketua WILDA dan rombongan Pak Sekjen yang datang bersama saya pada kesempatan  ini Saya bersyukur sekali akhirnya bisa bertemu dengan antum semuanya,dan dengan mengikuti acara dari awal tadi sampai sekarang, saya semakin yakin Insya Allah bukan hanya badai pasti berlalu, tapi Insya Allah kita juga akan menang.

Saudara-saudara sekalian,

Kita mungkin dan saya kira masyarakat kita secara umum, pasti terpengaruh dengan kasus yang sedang menimpa kita saat ini. Dan saya kira antum di Gorontalo ini merasa, bahwa disamping ada kasus ini kelihatannya kompetitor antum juga kuat disini. Saya kira perasaan ini ada pada antum semuanya. Tadi kalau saya simak dari sambutan Ketua DPW, tapi saya selalu mengulang-ulangi satu ungkapan yang selalu saya sampaikan pada seluruh kader sejak saya awal dulu saya menjadi Sekjen.

Tantangan yang besar itulah yang membuat kita menjadi besar. Kita tidak menjadi besar seketika, tapi kita menjadi besar secara perlahan-lahan. Dan yang mempercepat kita tumbuh menjadi besar itu karena tantangan kita lebih besar dari kemampuan kita. Jadi kalau pada suatu waktu ikhwah sekalian, antum menemukan diri antum semuanya, atau saudara-saudara menemukan bahwa tantangan yang saudara hadapi di lapangan jauh lebih besar dari pada kapasitas dan kemampuan kita untuk menghadapinya, percayalah itu adalah alat dari Allah SWT untuk membesarkan kita. Sebab, sejarah itu bergerak karena dialektika antara tantangan dan respon, challenge and respon, wal istijabah.

Manusia pada tabiatnya bergerak karena dia ditantang, jadi kalau tidak ada tantangan bagi manusia, tidak ada stimulan yang akan membuat dia bergerak. Sejarah manusia menjadi dinamis, karena tantangannyalah yang membuat dia merespon terus-menerus tantangan itu sehingga ada dinamika. Dinamika gerak sejarah itu ditentukan oleh dialektika tantangan dan respon itu tadi. Coba kita lihat perjalanan kita sendiri, saudara-saudara sekalian. Saya ingat, pada waktu kita pertama kali mendirikan partai ini, jumlah kader kita itu hanya sekitar 33.000 orang. Sekarang jumlah kader kita yang tercatat, maksudnya yang tertarbiyah by name by address itu sekitar 500-an ribu.

Dan kalau kita memasukan semua yang tidak tercatat, tapi ada dilingkaran kerja PKS semuanya, kira-kira angkanya dikisaran 800 sampai 1 juta orang. Itu semuanya kita capai dalam waktu kira-kira 15 tahun sejak kita terlibat dalam partai politik. Siapa yang pernah membayangkan bahwa kita bisa tumbuh begitu cepat. Salah satu alasan mengapa kita melakukan rekrutmen besar-besaran, saya ingat itu keputusannya pada tahun 2000-2001, waktu kita menyusun rencana kerja. Kenapa kita melakukan rekrutmen besar-besaran, alasannya sederhana, setelah kita merasa bahwa capaian pada tahun 1999 hanya 1,4 juta orang, dan kita tidak lolos electoral threshold, sehingga harus ganti nama untuk bisa ikut pemilu 2004. Saya membuat hitung-hitungan kampung, ini tidak akademik sama sekali, tapi ini orang kampung ini hitungannya.

Kalau kader kita ada 33.000, suara kita ada 1,4 juta, kira-kira rasio kader dengan suara itu 1 per 40. Saya hitung-hitung, tahun 2004 nanti kita tidak akan punya uang untuk bisa pasang iklan, karena terlalu mahal. Jadi kalau kita mau lolos ET, hanya ada satu cara, tambah jumlah kader supaya suaranya bertambah. Jadi misalnya kita punya target berapa, tinggal kita buat rasionya. Sebab kita tidak bisa memiliki semua elemen pemenangan itu, faktor-faktor kemenangan itu setelah kita hitung-hitung kira-kira ada 8, salah satunya adalah media/iklan. Kita akui itu pengaruhnya besar, tapi bagaimana cara mensiasatinya kalau kita tidak punya uang, iya kan. Kira-kira kasus PKS ini kan sama dengan lagu Rhoma Irama, apa artinya malam minggu bagi orang yang tidak mampu, mau ke pesta tidak punya uang, akhirnya nongkrong dipinggir jalan. Jadi kalau orang lain bikin pesta besar dalam gedung, kita tidak bisa sewa gedungnya, tidak bisa sewa artis untuk nyanyi yang bagus disitu, yang kita lakukan apa, kita bikin pesta dipinggir jalan dengan cara kita sendiri, kita sendiri yang nyanyi, kita bikin lagunya sendiri, kita joged sendiri suka-suka hati. Dan ternyata, Alhamdulillah pesta kampung dipinggir jalan ini, sedikit banyak lebih menarik dari pesta yang ada dalam gedung. Sehingga orang-orang yang tadinya ikut acara didalam gedung lama-lama satu per satu keluar dari gedung, ikut nongkrong pesta bersama kita dipinggir jalan. Itu cara mensiasati kemiskinan.

Dan Alhamdulillah, kita mengalami lompatan, bukan hanya pada lompatan suara, tapi pertama-tama lompatannya adalah pada jumlah kader. Nah, saudara sekalian, dari mana kita bisa menemukan ide kreatif begitu, kalau bukan karena tantangannya yang sangat berat. Kita semuanya dipicu, adrenalin kita terpicu karena kita tidak lolos ET, sehingga kita semuanya mencari, putar otak, cari akal bagaimana caranya bisa menang dengan uang yang sangat terbatas.Saya kira, ini persoalan antum juga di Gorontalo.

Ada semangat, tapi tidak punya uang. Nah, kita mesti memicu adrenalin kita dengan tantangan yang besar seperti itu, supaya kita bisa putar otak, bagaimana caranya kita menang. Dan ini persoalan PKS dari dulu sampai sekarang. Apalagi setelah kita menghadapi kasus ini. Saya dengar dari salah seorang menteri kita dalam suatu rapat, itu pernah mengatakan sekarang orang takut semua ketemu dengan kita. Takut keseret-seret katanya. Saya bilang, wajarlah. Karena uang dalam politik itu mengalir kepada prospek, siapa yang punya prospek kesitulah uang mengalir. Yang tidak punya prospek, biasanya uang tidak mengalir kesana. Nah, sekarang saya kira dalam situasi seperti ini, antum semuanya membaca survey-survey. Saya tadi sudah membaca hasil survey Gorontalo, dan surveynya menyedihkan, sangat menyedihkan. Cuma dapat 2,6 %. Sangat menyedihkan survey ini.Tapi itu juga angka nasional. Jadi bukan cuma Gorontalo yang menyedihkan, kita secara nasional juga sangat menyedihkan. Dan apa yang kita lakukan kalau kita membaca survey seperti itu ikhwah sekalian. Sekarang antum mulai menghitung tantangannya, sudah disurvey jelek, kita tidak punya uang pula.

Apa yang kita lakukan? Saya bilang sama semua daerah yang sudah melakukan survey,survey itu jangan disembunyikan, dibuka kepada seluruh kader tanpa kecuali. Supaya semua orang tahu angka kita dalam survey jelek. Memang kenapa kalau jelek.Itu angka kita sendiri, dan jangan membela diri dengan mengatakan “wah, beriman kepada survey ini kan salah. Sebab survey itu bukan rukun iman” …Survey itu adalah produk ilmu pengetahuan. Dan islam menganjurkan kita semuanya berpengetahuan. Karena itu kata ilmu dalam AlQur`an terulang lebih dari 750 kali. Bahkan iman ini hanya menjadi kuat menjadi sah, kalau dia dilandaskan pada ilmu ..fa’lam annahu laa ilaaha illallah ..”ketahuilah bahwa tiada Tuhan selain Allah “ .. fa bada`a bil ilmi qoblal iman.. jadi “al Qur`an memulai dengan ilmu sebelum iman”.

Walaupun tidak masuk didaftar rukun iman survey itu, tapi kita harus percaya dia sebagai produk pengetahuan. Tapi cara bacanyalah yang perlu kita pelajari. Cara membaca survey yang benar adalah ;

Pertama Memposisikan diri kepada survey. Yang tidak boleh kita lakukan adalah memposisikan diri kepada survey sebagai penonton, itu tidak boleh. Yang kedua, memposisikan kepada survey sebagai pengamat, itu juga tidak boleh. Kita harus memposisikan diri kepada survey sebagai pemain. Saya ulangi, sebagai pemain, bukan penonton dan juga bukan pengamat. Kalau antum biasanya melihat penonton orang main bola, ekspresi wajahnya itu mengikuti siapa grup yang dijagokan. Begitu grupnya kebobolan bola, wajahnya sedih, itu penonton. Begitu menang, dia tepuk tangan, itu penonton. Kalau pengamat, dia lihat arah bola, bisa ke kanan bisa ke kiri. Karena dia tidak punya interest. Tapi kalau kita pemain, pikiran kita itu cuma satu. Bagaimana caranya mencetak gol.

Jadi kita membaca survey ini semuanya, dengan satu cara pandang, bagaimana caranya kita menemukan celah, untuk bisa menggiring bola ke gawang. Itu mindset pemain. Gawangnya adalah TPS, bolanya adalah pemilih. Ada untungnya, kita tahu survey ini sekarang. Karena survey ini adalah produk persepsi hari ini. Sehingga bentuk pertanyaannya, jika anda ada pemilihan hari ini…untungnya Pemilu 5 bulan lagi, masih ada waktu. Itu mindset pertama. Sekarang kita juga mungkin berpikir, di TV, di media kita sekarang tidak punya banyak frekuensi kemunculan. Apalagi sekarang ini, khususnya TV secara umum, sudah dimiliki oleh petinggi-petinggi parpol. Sehingga semua media digunakan untuk partainya sendiri-sendiri. Jadi kalau antum berpikir dalam kerangka itu, media sudah punya partai lain. Di survey kita jelek, kita pun tidak punya uang untuk itu. Pusing kita kan?..tapi sekarang, coba sekarang kita putar otak sebagai pemain. Dan kita masih punya satu keuntungan, karena pencoblosan tidak dilakukan di TV, pencoblosan adanya di TPS. Dan di TPS itu dalam jangkauan antum semuanya. Jadi jangan khawatir. Saya sudah menyaksikan berkali-kali, banyak orang yang punya TV, tapi partainya tidak dapat suara. Dan banyak partai yang tidak punya TV tapi partainya dapat suara. Kenapa, yang perlu kita tahu adalah realitas media dan realitas lapangan itu dua hal yang berbeda. Jadi sepanjang TPS ada dalam jangkauan antum semuanya, Insya Allah kita punya celah yang sama untuk menang. Jadi jangan bersedih. Yang penting mindsetnya yang kita perbaiki. Mindset kita adalah pelaku, mindset kita adalah pemain. Sehingga kita membaca survey ini dalam perspektif sebagai pelaku itu.

Kedua Kita harus punya mental juara. Jadi kalau kita main bola dua babak, dan babak pertama kita kebobolan tiga gol, jangan berpikir kita kalah, masih ada babak kedua. Dan kalau babak kedua kita belum cetak gol juga  pada menit-menit pertama,jangan khawatir, masih ada menit-menit sesudahnya. Kita baru benar-benar dinyatakan kalah, kalau pertandingan sudah selesai, dan kita kalah. Sepanjang belum ada pluit dari wasit bahwa pertandingan selesai, sepanjang itu kita punya harapan untuk mencetak gol. Jadi sekarang, mumpung pemilunya masih lama, masih ada waktu untuk mencetak gol. Kita mesti punya mental juara ini, yang tidak merasa kalah dimenit-menit pertama, walaupun tampak sudah kebobolan. Saya ingat dulu Rudi Hartono dalam salah satu pertandingan bulu tangkis, itu sudah 13 – 0, kalau tidak salah lawannya dari India, dia 0 lawannya sudah 13, tinggal 2 angka lagi lawannya menang. Tapi mental juara, perasaannya tidak terpengaruh. 2 itu angka yang mahal, dia terus main. Dan pelan-pelan mulai mencetak angka, 1, 2 dst naik sedikit-sedikit. Akhirnya dia memenangkan pertandingan itu diakhir.

Saya punya keyakinan yang kuat, kalau kita punya mental juara seperti ini ikhwah sekalian, Insya Allah, kita akan  membuat hasil pertandingan itu menjadi sesuatu yang tidak bisa diduga-duga orang. Dan jauh lebih bagus ketika kita bertanding dalam keadaan orang-orang itu under estimate kepada kita, dibanding ketika orang over estimate kepada kita. Jadi kalau orang sekarang misalnya persepsinya tentang PKS ini jleb .. misalnya underdog.wah ini PKS pasti hancur. Angkanya sedikitlah, tidak akan banyak angkanya yang akan dia dapat nanti, tidak akan banyak kursinya. Malah ada satu partai bisik-bisik ke kita, dia bilang begini, ini PKS nanti maksimum 25 kursi untuk DPR RI, kita sudah buat simulasi. Ada lagi yang bilang, kita sudah bikin simulasi maksimum kursi PKS itu 28. Ini ikhwah, karena dikasih tahu begini, dia tanya saya ini bagaimana pendapat antum. Saya bilang..Bagus, sudah benar itu dia ngomong begitu kepada kita. Sudah bagus orang-orang itu bicara begitu kepada kita. Tapi, kita punya rencana sendiri,dan kitalah yang lebih tahu bagaimana caranya mencapai rencana itu. Kita yang lebih tahu.

Ikhwah sekalian, saya ingat pada tahun 2004, ketika saya jadi caleg di Jakarta, waktu itu Jakarta nomor 1-nya itu merah. Kita sudah membuat rencana pokoknya Jakarta kita harus nomor satu, tapi rencananya diam-diam. Saya membuat cara hitung kampung bagaimana cara dapat kursi maksimal di Jakarta dan tidak pakai survey waktu itu. Saya bikin sendiri hitungannya. Karena pikiran saya sederhana, gawangnya TPS bolanya pemilih. Jadi kader yang kita punya ini kita suruh bikin direct selling setiap hari dan setiap malam saya mendapatkan laporannya dari DPC dengan angka-angka. Tapi saya tidak memberi tahu Ketua-ketua DPC bagaimana cara saya menghitung, pokoknya saya cuma meminta laporan daftar closing setiap hari dari semua kader yang melakukan direct selling. Setiap malam saya kumpulkan angka-angka itu,secara diam-diam semua angka itu saya buat angka akumulasinya, setelah itu saya diskon 50 %, saya anggap laporan mereka ini 50 %-nya tidak benar. Saya diskon sendiri. Jadi 50 % ini angka nett, saya genjot mereka terus bikin program itu, walhasil, setelah saya diskon 50 %, angka nett ini ternyata hasilnya sudah dua kursi. Saya bilang, saya genjot lagi sedikit. Dan Alhamdulillah, begitu pencoblosan, di dapil saya dapat tiga kursi. Waktu itu pak Presiden Hidayat Nur Wahid di dapilnya beliau dapat dua kursi. Dan Alhamdulillah kita nomor satu di DKI. Tahun 2009 yang lalu, saya jadi caleg lagi di Makassar, dapil I. Saya Bugis,tapi dapil ini dapil Makassar. Saya tidak punya keluarga disitu, dan struktur pun juga lemah disitu. Bahkan ada satu kabupaten diwilayah itu yang KI-nya nol. Ada lagi satu kabupaten KI-nya Cuma satu, Ketua DPD. Ada lagi satu kabupaten KI-nya cuma 7. Kemudian banyak lembaga survey di SulSel bikin survey, sampai bulan Februari tahun 2009 atau 1 bulan setengah kurang dari hari pencoblosan, nama saya pun belum muncul di dalam survey. Sehingga ketua lembaga survey ini mempresentasikan di depan Wilda, sambil bicara begini, Pak Anis pasti tidak masuk, dan potong telinga saya kalau sampai benar-benar dia masuk. Saya dengar juga. Saya bilang, sudah benar dia ngomong begitu. Walhasil, angka saya yang paling tinggi di dapil itu, tapi kita tidak sampai meminta telinganya di potong.

Ikhwah sekalian, ini cara kerja diam-diam. Jadi saya waktu itu Ketua TPPN, dan memang tidak punya banyak waktu mengurus dapil itu, karena saya harus mengurus semua dapil. Apa yang saya lakukan ? Saya pertama kali turun sapu bersih wilayah itu, lihat saja, tidak ketemu siapa-siapa, cuma datang keliling, saya cuma lihat wilayah. Kalau istilah orang get the feeling. Cuma kita merasa-rasa saja wilayah itu. Feelingnya kayak apa kita diwilayah itu. Saya lihat baliho orang-orang, bikin baliho besar-besar. Langkah kedua, saya mulai ketemu dengan struktur dan ketemu dengan orang tapi tidak dalam acara, cuma ketemu-ketemu saja, lihat orang, suasana orang. Sambil melihat atribut calon-calon yang lain. Langkah ketiga, saya mulai testcase, bikin acara. Saya kumpulkan massa, saya ceramah politik. Waktu ceramah politik itu, saya melihat orang tidak punya respon apa-apa. Saya menyiapkan bahan visi misi yang luar biasa, tapi orang kok responnya tidak ada. Saya bilang coba kita testcase sekali lagi. Bikin acara isra` mi`raj atau maulid, saya lupa. Ternyata orang responnya luar biasa. Setelah itu, saya mulai bikin foto, sebelum bikin atribut.

Coba cek ke lapangan, survey dulu ke lapangan. Saya bikin 4 foto, 1 foto pakai jas pakai dasi, 1 foto pakai jas tanpa dasi, 1 foto pakai baju koko pakai peci putih, 1 foto pakai batik. Tanya mereka, yang paling mereka suka yang mana. Jadi kalau turun, orang tidak suka ceramah politik. Yang mereka suka, ceramah agama. Karena jarang-jarang ada politisi yang bisa bicara agama. Tapi begitu kita kasih foto, ternyata yang mereka suka, yang pakai jas pakai dasi. Karena orang-orang disana pendidikannya rendah, jadi dia berharap pemimpinnya itu tampak lebih cerdas dari mereka. Anda perhatikan, mereka pendidikannya rendah, padahal mereka religius, kelompok yang dikenal daerah orangnya agamis. Kita kasih foto yang pakai baju koko pakai peci, mereka tidak suka. Tapi kalau turun ke lapangan, dia tidak suka kita pakai jas pakai dasi. Dia maunya kita pakai koko saja. Tapi kalau dikasih foto, dia maunya yang pakai jas pakai dasi. Oke, kalau begitu saya mulai mengerti. Pada kelompok masyarakat yang tidak terdidik, mereka mengharap pemimpinnya itu tampak cerdas, lebih cerdas dari mereka. Itu sebabnya, kenapa Habibie jadi Dewa di Sulawesi. Karena makhluk langka seperti ini, jarang-jarang kita punya. Jadi mereka senangnya yang begitu. Tapi waktu kita turun, dia tidak suka ceramah politik, kenapa? Dia tidak paham. Dia tidak suka kita bicara program. Begitu kita bicara agama dikaitkan sedikit dengan politik, baru dia suka. Dia tepuk tangan. Dia semangat. Akhirnya Alhamdulillah,karena cara seperti itu, semua permintaan datang dari masyarakat setelah itu hanya untuk ceramah agama. Saya ingat, disalah satu kabupaten, karena waktu sudah tidak ada, saya menyampaikan ceramah agama itu jam 2 pagi. Karena sudah tidak ada waktu, dan ini waktu yang tersedia tinggal begini, oke tidak apa-apa yang penting datang kesini. Dan orang kampung kumpul semuanya ditempat itu,mereka menyediakan makan, bikin pesta besar, orang kampung semua kumpul sambil merokok, tunggu saya jam 2 malam baru datang.

Alhamdulillah, saya menang besar didaerah itu. Dan mereka bayar sendiri. Saya mau menyampaikan, ini persoalan masalah kreatifitas, cara kita bekerja, mindset sebagai pemain dan mental juara. Setelah itu saya mulai berpikir begini, saya tidak pasang baliho besar. Setelah saya lihat dijalanan baliho besar ini pertama penyakitnya gampang rusak, kedua butuh space yang besar, ketiga ongkosnya mahal. Bagaimana cara kerja kalau uang kita sedikit. Saya coba cari akal, bagaimana caranya..saya lihat-lihat..bentuk-bentuk potret zaman dulu, saya bikin banner kecil-kecil 1×60 lebarnya. Kecil-kecil. Ini ongkosnya murah, ongkosnya satu Rp 5000. Tapi saya cetak banyak. Dan dipasang, karena tidak bisa dipasang dipohon-pohon. Jadi setiap 100 meter dipasang satu, ongkosnya murah. Jadi kalau satu km cuma perlu 10, harganya cuma Rp 500.000. Kalau 100 km hitung berapa ongkosnya. Saya cetak banyak banner, dan seluruh kabupaten/kota di dapil itu setiap 100 meter ada banner saya. Tapi, ada saran dari ikhwah waktu itu kordapilnya, jangan pasang di bulan  November, Desember, Januari. Saya bilang kenapa? Itu musim hujan. Jadi nanti sampai musim pencoblosan, itu gambar sudah jelek. Benar juga. Jadi banner itu disimpan. Pada bulan Februari itu dipasang serentak disemua kabupaten/kota. Besok pagi orang bangun tidur, orang kaget, dan pertanyaan orang cuma satu; berapa banyak uangnya yang dia pakai. Karena itu cara kita mensiasati kemiskinan. Jadi ide ini dulu saya ambil dari kisah salah satu perang yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, yaitu perang mutah. Jadi ini pasukan jumlahnya cuma 3000 orang lawannya 200 ribu orang. 4 komandan pasukannya sudah syahid semuanya, Khalid bin Walid disuruh jadi pengganti. Waktu Khalid menjadi pengganti, dia berpikir kemenangan maksimum yang kita bisa dapat dalam pertempuran yang tidak seimbang ini adalah menyelamatkan nyawa yang tersisa. Cuma bagaimana caranya mundur tanpa disadari oleh lawan kalau kita mundur. Jadi dia bikin satu pola, namanya nizhamul qaradisy. Jadi pasukan ini, yang difront diganti-ganti, habis difront ini disuruh mundur, muncul lagi yang lainnya. Terus diganti seperti itu. Sehingga lawan itu  punya bayangan ini ada supply pasukan terus. Tidak berhenti, terus ada supply pasukan, wajah terus berganti-ganti, besok baru lagi, besok baru lagi. Mentalnya mulai turun,akhirnya yang tadinya agresif menyerang, jadi defensive, berhenti dulu. Ini ada supply pasukan, kita tidak bisa baca ini. Padahal pelan-pelan yang ini mulai mundur satu-satu, cuma yang didepan selalu ganti. Itu cara membuat jumlah yang kecil kelihatan banyak. Sekarang bagaimana cara kita membuat orang miskin tampak seperti sangat kaya. Jadi orang dulu berpikir, Pak Anis ini uangnya unlimited, top. Memang itu yang kita harapkan, pikiran itu yang kita inginkan dari orang. Dia tidak tahu berapa harga banner saya, kalau kita pasang baliho, kalau ukuran 2×3 kan mahal ongkosnya, ini harganya Rp 5000, kita cetak banyak, akhirnya kesan orang ini ada dimana-mana sampai di kampung-kampung, di gunung-gunung juga ada, padahal barangnya murah.

Ikhwah sekalian, itu adalah masalah mental juara. Satu lagi dari persoalan dengan mental juara ini adalah dalam cara kita membaca survey; yaitu perhatikan jangan lihat angka akhirnya dalam membaca survey….. Golkar dapat berapa, Hanura dapat berapa, PPP dapat berapa, PKS dapat berapa. Tidak, bukan begitu cara melihatnya. Bagaimana cara kita menemukan celah. Saya sudah mentrash semua survey yang ada, membacanya, dan kesimpulan saya kira-kira begini; pemilih di Indonesia ini 70 % sudah menetapkan pilihan, 30 % belum. Dari 70 % yang sudah menetapkan pilihan, kira-kira 50 %-nya itu masih bisa berubah. Jadi kalau kita gabung antara 30 % yang belum memilih dan 50 % dari 70 % yang masih mungkin berubah atau sekitar 35 % lagi, ada kira-kira 65 % pemilih yang belum menetapkan pilihan sampai sekarang atau masih mungkin berubah. Sehingga, angka-angka survey ini,itu adalah angka flotaid, angka yang rapuh, gampang berubah-rubah. Sebab belum terjadi satu konsolidasi yang menggiring suara, seperti yang kita lihat di channel national geoghraphy, ikan-ikan itu rombongan, satu arah. Suara-suara pemilih ini masih acak, masih random, belum terkonsolidasi kepada satu titik. Artinya apa, tidak ada satu partai sekarang ini yang bisa dikatakan lebih menonjol dari pada yang lainnya dalam hal konsolidasi tadi. Yang terjadi ini adalah angka-angka biasa disebabkan oleh pengenalan masyarakat biasa seperti itu, tapi tidak terjadi penggiringan secara massif terhadap salah satu partai tertentu. Ini yang saya maksudkan dengan celah. Sehingga hasil survey yang ada di Gorontalo ini setelah saya baca tadi malam, dalam kesimpulan saya hanya mungkin Golkar yang relatif lebih kuat, agak permanen suaranya, karena factor masa lalu. Akumulatif seperti itu, tapi lainnya masih flotail semuanya walaupun ada diatas kita. Jadi benar kata Pemred Gorontalo Post tadi malam, asalkan PKS bekerja PKS pasti dapat kursi. Itu celahnya yang ada.

Jadi dengan demikian ikhwah sekalian, Survey yang tampak menakutkan ini sebenarnya justru membuka celah kepada kita semuanya. Celah kita menang disini. Dan biarkan orang berpendapat sesuai dengan survey ini, supaya orang underestimate dengan kita. Dan kalau orang underestimate dengan kita Insya Allah kita bisa jauh bekerja lebih bebas tanpa beban. Itu juga sebabnya mengapa kira-kira sejak bulan Juni yang lalu, kita melakukan perubahan strategi. Waktu kasus ini terjadi ikhwah sekalian pada akhir Januari, saya berpikir, saya menyelamatkan dulu hal-hal yang tidak boleh tidak diselamatkan. Karena itu kita langsung high profile diawal, dibulan Februari itu. Dan Alhamdulillah 3 minggu setelah kejadian itu, kita menang di Jawa Barat, 5 minggu kemudian kita menang lagi di Sumatera Utara. Dan setelah itu kita bikin acara Mukernas di Semarang, setelah itu konsolidasi di Istanbul untuk seluruh kader dari seluruh dunia. Dan saya pikir waktu itu, karena kita ingin mempertahankan moralitas kader, jadi kita semangat 45. Kita lawan semuanya, dan Alhamdulillah kita menang. Dan saya memberikan komentar atas kemenangan itu sebagai kemenangan di tengah badai. Ini kelihatannya kompetitor kita melihat, ini partai sudah di bom begini masih saja hidup. Akhirnya datanglah badai kedua, sejak bulan Mei keluarlah semua perempuan-perempuan cantik itu di media. Yang tadinya hanya muncul di TV berita seperti TV One dan Metro TV, akhirnya muncul di entertainment semuanya. Dan begitu muncul di entertainment, kita tahu yang disasar adalah kelompok ..kalau biasanya diTV itu marketnya adalah BCDE, kelompok masyarakat menengah bawah, khususnya ibu-ibu. Sehingga orang kita survey lagi, yang tadinya hanya ada 30 – 40 % yang mengenal kasus ini, setelah kita survey ulang, ternyata yang mengetahuinya sudah sampai 85 %, dan yang percaya PKS salah itu 70 %. Saya bilang, ini pintar benar yang melakukan serangan ini, dahsyat. Dahsyat yang melakukan serangan ini. Jadi kita mulai melakukan perubahan sedikit strategi. Bagaimana cara kita melakukan perubahan dalam strategi ini? Kita biarkan dulu ini berlalu sambil kita tarik napas.

Masih ada waktu, Insya Allah. Dan saya kira ikhwah sekalian, salah satu seni yang rumit dalam pengelolaan kampanye itu adalah karena kita harus mengkombinasikan kapan lari marathon, kapan lari sprint. Saya kira pada bulan Februari-Maret dan April kita lari sprint. Sehingga kita dislediting oleh orang lain, kita jatuh menjaga gawang. Sekarang kita sudah mengerti. Kita belajar lagi..belajar lagi…belajar lagi ….dan kita mulai bisa mengatur ritme. Saya bilang, biarkan ini sedikit berlalu dan kita mulai mengatur ritme ini pelan-pelan. Dan saya masih tetap yakin Insya Allah bahwa target-target yang kita buat Insya Allah bisa kita capai. Saya mengaudit semua dapil sekarang ini satu per satu, mengunjunginya, tanpa membawa rombongan media yang besar. Karena memang saya sengaja, supaya tidak terlalu menjadi berita besar, muncul dalam berita tapi tidak perlu jadi gelombang yang terlalu besar, seadanya saja. Itu dengan sengaja, supaya kita punya waktu mengaudit lapangan secara lebih detail. Dan setelah kita audit ikhwah sekalian, dari barat sampai ke timur semuanya kita audit, sekarang ini dapil-dapil kita bagi dua, dapil barat sama dapil timur. Dapil barat itu wilayah dakwah sumatera dan seluruh pulau jawa, wilayah dakwah jawa tengah, jawa timur, dan banjabar. Kemudian 4 wilda yang lainnya, termasuk wilda Sulawesi ada diwilayah timur. Dan sekarang kita buat zona dapil itu menjadi 3 dalam 2 zona besar tadi. Zona Barat dan Zona Timur. Didalam setiap zona ini kita bagi 3 dapil. Yang pertama; dapil existy artinya dapil yang sudah dapat suara dan tidak ada rencana pertambahan suara karena kondisinya,sudah dapat kursi DPR RI, tidak ada rencana pertambahan suara,kita cuma mempertahankan. Yang kedua; dapil new sheet, kursi-kursi baru. Gorontalo masuk disini. Yang ketiga; dapil expansi, dapil yang sudah dapat kursi dan punya potensi untuk mendapatkan tambahan kursi baru. Setelah kita hitung-hitung, kira-kira ada 54 dapil incumbent yang bisa bertahan, dan ada 20 dari sisa 23 dapil yang kita targetkan Insya Allah dapat kursi DPR RI, termasuk Gorontalo. Dan ada 10 dapil yang kita harapkan Insya Allah mendapatkan kursi tambahan, sudah dapat dan Insya Allah masih bisa dapat satu lagi kalau kita push. Jadi kira-kira setelah kita membuat hitungan-hitungan lapangan ini, kita tetap optimis Insya Allah, paling sedikit kita mempertahankan 57 kursi yang ada dan mudah-mudahan bisa menambah beberapa kursi lebih dari yang sudah kita dapat. Tapi kita diam-diam. Bekerja dalam diam, dalam sunyi yang panjang. Diam saja bekerja, tokh closingnya ada dilapangan bukan di media. Ini yang saya maksud kita lakukan anjudment Insya Allah, setelah saya keliling dan melihat kondisi elemen-elemen pemenangan pada kader itu semuanya, saya semakin percaya Insya Allah ini bisa kita menangkan.

Ikhwah sekalian, saya kira kita perlu mendapatkan inspirasi. Setelah melihat audit dapil-dapil ini, kita perlu mendapatkan satu inspirasi, bagaimana cara kita mengelola sisa waktu yang ada sekarang ini untuk bisa memenangkan target-target kita ini. Salah satu sumber inspirasi yang saya ulang-ulangi sekarang khususnya pada antum semuanya para caleg yang menjadi ujung tombak dari pemenangan ini, satu peristiwa dalam sejarah rasulullah SAW. Antum masih mengingat, kapan waktunya Rasulullah memberikan janji akan membebaskan Persia dan Romawi. Masih ingat? Dalam peristiwa apa Rasulullah menjanjikan pembebasan Persia dan Romawi ? Perang Khandaq !! Coba kita zoom ini perang khndaq lebih detail sedikit. Perang Khandaq ini adalah perang ke-3 terbesar setelah perang Badar dan Perang Uhud. Jumlah pasukan islam pada perang Badar itu 300 lawan 1000, waktu perang Uhud 1000 lawan 3000, waktu perang Khandaq 3000 lawan 10.000. Jadi perbandingannya selalu 1 lawan 3. Perhatikan. Tapi ada masalah dalam perang Khandaq ini, yaitu informasi rencana serangannya baru diperoleh oleh Rasulullah 6 hari sebelum hari H serangan. Sehingga relative tidak ada waktu untuk menggiring perang ini keluar kota. Perang Badar itu terjadi diluar Madinah. Kira-kira jauhnya dari Madinah 150-an meter. Perang Uhud itu masih dipinggir kota, daerah pegunungan dipinggiran Madinah. Dekat ke Madinah, tapi itu masih agak kepinggir. Tapi perang ini, karena waktunya terlalu singkat itu tidak bisa digiring ke luar Madinah. Persoalannya adalah pasukan sebesar 10.000 orang itu tidak bisa dibendung. Kalau mereka menyerbu seperti itu, terlalu besar untuk dibendung didalam kota. Dan bagaimana caranya menyelamatkan anak-anak, wanita dan orangtua. Kan itu persoalan. Maka Rasulullah musyawarah, muncullah usulan strategi, taktik itu tadi, menggali parit. Saya kira sampai disini antum semua tahu paritnya. Ada pertanyaan teknis. Kita ini orang-orang lapangan semuanya. Pertanyaan teknisnya adalah berapa luas paritnya, berapa dalamnya, dan berapa panjangnya parit digali. Parit ini dalamnya 3 meter, lebarnya sekitar 6 meter, supaya tidak bisa dilompati kuda, dan kalau kudanya jatuh tidak bisa naik lagi. Panjangnya itu setengah Kota Madinah. Masalahnya, secara teknis, waktu itu musim dingin. Musim paceklik juga, musim lapar. Antum pernah mendengarkan Rasulullah mengikat pinggangnya dengan 2 batu. Kejadiannya pada perang Khandaq itu tadi. Tapi, ikhwah sekalian, sisa waktu kerjanya masalahnya tinggal 6 hari. Antum Pemilu masih berapa lama? Masih 5 bulan. Ini sisa kerjanya cuma 6 hari. Jadi ditengah tantangan berat seperti itulah …dan siapapun yang pernah umrah..pernah ke Madinah tahu bagaimana kerasnya tanah di Madinah itu. Jadi tidak gampang menggali seluas itu. Itu sebabnya ada satu batu karang disitu yang tidak bisa dipecahkan oleh para sahabat, akhirnya Rasulullah yang turun tangan memecahkan karang itu. Pada setiap kali pukulan karang itu, Rasulullah mengatakan ..la tuftahanna ruum..la tuftahanna pursy..satu persatu negara itu yang akan dibebaskan itu disebutkan Rasulullah, padahal perang ini belum dimenangkan. Jadi kita belum memenangkan Pemilu 2014, tapi kita sudah mempunyai rencana kemenangan yang lebih besar dari pada sekedar kemenangan pemilu 2014.

Perhatikan ikhwah sekalian, itu sebabnya ikhwah sekalian, Allah SWT menyebutkan selalu bersamaan innama`al usri yusra….innama`al usri yusra…  tidak pernah kesulitan itu datang sendiri. Selalu ada pasangannya, pasangannya adalah kemudahan. Dan ada kaidah ushul fiqh yang mengatakan, al amru idza doqot tasho`, wa idza tasho` adho` -urusan itu kalau lapang menyempit, kalau menyempit lapang – ..orang-orang Gorontalo yang tinggal dikota disini, tidak boleh shalat jamak dan qashar, tapi kami yang datang dari Jakarta itu boleh shalat jamak dan qashar. Karena orang-orang yang diam di Gorontalo ini itu urusannya lapang, peraturannya jadi ketat. Kita, urusan kita sempit, peraturannya dilonggarkan. Jadi ikhwah sekalian, artinya apa..setiap kali ada tantangan besar seperti ini, Allah menyediakan dibaliknya itu ada rencana kemenangan. Jadi ini ada taqdir yang ingin diberlakukan Allah SWT kepada kita. Tapi taqdir kemenangan ini didahului oleh tantangan-tantangan berat dulu. Seperti sebelum fajar datang, antum harus melampaui gelapnya malam. Fajar itu tidak datang duluan. Kita mesti melewati malam dulu baru ketemu dengan fajar. Kita mesti melewati tantangan-tantangan ini dulu, baru Insya Allah, Allah memberikan kita kemenangan-kemenangan besar. Sehingga dari kisah khandaq ini, kita jadi percaya, bahwa Insya Allah semua kesulitan yang kita hadapi sekarang ini, adalah cara Allah SWT untuk mengangkat derajat kita lebih tinggi daripada yang kita duga.

Salah satu buktinya ikhwah sekalian; adalah ..kan begini…kalau daftar calegnya PKS untuk 2014 kan sudah jelas, antum semua sudah tahu kan? Tapi kalau daftar anggota dewan DPR RI, DPRD Provinsi 2014 antum sudah tahu belum ? Kira-kira ada partai gak yang tahu ? Tidak ada yang tahu kan. Tapi nama itu ada gak di lauhul mahfuzh? Sudah ada. Ada untungnya kita ini tidak sampai dapat bocoran dari lauhul mahfuzh. Sepanjang semua partai tidak dapat bocoran dari lauhul mahfuzh, tentang nama-nama yang ada dalam daftar itu tadi, semua boleh berharap siapa tahu nama kita yang ada disitu. Saya kira di Gorontalo ini kan ada cerita Bupati sudah menang, terus meninggal. Ada cerita itu disini? Nah sepupunya Pak Agus itu kan, sudah menang tidak jadi dilantik, karena namanya tidak ada dilauhul mahfuzh. Seperti pilkada walikota Gorontalo, nama walikota aslinya tidak ada dilauhul mahfuzh tahun-tahun ini. Itulah takdir. Sepanjang kita belum tahu takdir kita, kita harus mengejar takdir kita itu. Dan Allah SWT mengatakan ..Ana `inda husni dzonni abdi bii.. – saya selalu berada pada titik sangkaan baik hambaku – .

Misalnya begini, kita bersangka baik kepada Allah bahwa nama kita ada dalam daftar itu. Tapi kalau sebenarnya di lauhul mahfuzh tidak ada, boleh gak kita berdoa ..Ya Allah kalau nama saya tidak ada tolong diadakan … Boleh dong. Kenapa? Rasulullah SAW mengatakan ..innad du`a wal qadr yatasaro`ani fiis sama`i… -sesungguhnya doa dan takdir itu berkelahi dilangit- .. Tokh taqdir pertama kita tidak tahu, perubahan taqdir kedua kita juga tidak tahu. Kita tidak tahu umur kita berapa, kita berdoa ..panjangkanlah umurnya ya Allah.. tapi umur kita yang sudah ditetapkan berapa?dan kalau ditambah berapa? Kita tidak tahu. Jadi kita semuanya punya hak untuk berdoa. Dan cara kita berdoa,supaya doa kita diterima, kata Allah SWT ..Wal `amalu shalihu yarfa`u .. – amal shalih yang mengangkat doa ke langit – . Jadi kalau antum terus menerus bekerja, bekerja keras, itu seperti jet, yang mendorong pesawat naik. Pesawatnya itu doa. Kalau jetnya ini mesinnya mesin besar, ada 4 mesinnya, ini terbangnya lebih tinggi. Jadi kalau amalnya banyak, yang mengangkat doa itu akan lebih banyak. Jadi misalnya, durasi kerja antum dari 24 jam satu hari, antum bekerja 15 jam sampai 18 jam satu hari, kemudian berdoa, masak tidak ada perubahan di lauhul mahfuzh. Jadi ikhwah sekalian, alasan untuk optimis ini terlalu banyak, terlalu banyak. Dan alasan-alasan inilah yang membuat saya secara pribadi dan saya kira kita semuanya akhirnya menjadi semakin yakin bahwa Insya Allah  kita akan menang mungkin lebih besar dari yang kita duga. Saya sampai sekarang punya keyakinan itu, karena itu saya keliling-keliling terus bertemu dengan ikhwah. Dan saya melihat, antara survey dengan kenyataan dilapangan, ada beberapa daerah yang disurvey kita ini merah, kursinya hilang. Setelah saya turun ke lapangan, tidak. Saya yakin ini Insya Allah dapat. Salah satunya misalnya di Sulawesi Tengah, disurvey itu hilang. Setelah saya turun ke lapangan, saya yakin Insya Allah dapat. Sama juga dengan Gorontalo ini, kalau melihat survey, kelihatannya tidak dapat kursi, karena nomor 7. Tapi feeling saya sebagai pelaku dilapangan, dan saya melihat wajah-wajah antum semuanya, melihat situasi dilapangan secara umum, by insting saja saya mengatakan, Insya Allah kita akan dapat. Saya yakin, Insya Allah.

Dan dengan demikian ikhwah sekalian, alasan untuk optimis inilah yang banyak, dan kita semuanya sekali lagi..bergerak dalam dua itu tadi. Kalau surveynya menakutkan, gunakan ketakutan itu sebagai energy, dan kalau surveynya menggembirakan… hati-hati. Yang justru tidak boleh itu, merasa aman. Sebab itu sangat berbahaya. Merasa aman itu membuat kita lengah. Ini misalnya di pilkada Kota Bogor. 3 hari sebelum pencoblosan, kita sudah menang dalam survey. Malam pencoblosannya, saya datang ke Bogor bersama pak Sekjend, ketemu dengan kandidatnya, ketemu dengan DPD-nya, ketemu dengan Gubernurnya. Kita bikin check list satu persatu persiapan untuk pencoblosan besok. Saya tanya ikhwah semuanya,aman..Insya Allah..satu persatu. Semuanya sudah aman. Besoknya, hasil pencoblosannya, kita kalah. Saya tanya lagi ikhwah disana, kenapa bisa beda dengan survey yang kemarin. Dia bilang, justru inilah yang kita tidak antisipasi. Karena mereka merasa aman di KPUD, sehingga kecurangan yang tidak terantisipasi itu lolos masuk kesitu. Mereka menang di 4 kecamatan dari 6. Dan hanya kalah di 2 kecamatan, tetapi dari 2 kecamatan itu menciptakan selisih, karena mereka meremehkan 2 kecamatan itu. Jadi pelajaran pentingnya adalah merasa aman itu yang tidak boleh, justru khawatir itu bagus. Jadi survey yang sekarang ini ada, ini menciptakan kecemasan, dan kecemasan itu adalah sumber energy yang akan membuat kita bekerja lebih keras dari pada sebelumnya. Sama seperti ikhwah di Ternate, mudah-mudahan ini menang Insya Allah. Mereka underestimate dengan lawan dari awal. Dari semua survey, mereka sudah 38 %, tahu-tahunya begitu pencoblosan mereka cuma dapat 20 koma, ada orang lain harus naik untuk putaran kedua. Di putaran kedua ini, dipicu oleh kecemasan dan ketakutan , mereka bekerja keras. Sampai saat ini dari 85 % masuk, mereka sudah unggul 3 %. 51 % lawan 48 %, belum final. Tetapi saya hanya ingin menjelaskan bagaimana ketakutan dan kecemasan itu membuat kita orang bekerja lebih keras. Jadi ikhwah sekalian, kita manfaatkan ini. Semua kecemasan kita untuk bekerja lebih keras, dan karena kita punya seabreg alas an untuk tetap optimis. Kita simpan optimisme kita diam-diam dalam hati, tidak usah umbar keluar. Kita diam-diam kita kerja. Insya Allah, mudah-mudahan diakhirnya nanti kita menciptakan hasil yang tidak diduga-duga. Itu juga sebabnya antum akan sering mendengar pernyataan saya di TV dan di media bahwa mencapai target 3 besar ini adalah mission imposible. Saya akan terus menerus mengulang-ulangi ini pada media untuk membuat orang senang saja. Tapi diam-diam kita merencanakan kemenangan diluar dari pada yang kita duga dan kemenangan diluar yang diduga-duga oleh orang lain.

Tapi saya ingin Tanya antum semuanya; antum yakin kita bisa menang di Gorontalo ? YAKIN?!! YAKIN?!!YAKIN !!?? ALLAHU AKBAR !!!

Wassalam`alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

"Ketika PKS Menjadi Target Berlapis, Mereka (Lawan Politik) Lupa Satu Hal"

"Ketika PKS Menjadi Target Berlapis, Mereka Lupa Satu Hal"

Semua sangat bisa dibaca settingan dan hitungannya,Sebelumnya; banyak yang bertanya, mengapa saya belum melanjutkan bagian tetakhir tulisan saya tentang, deception operation ala intelejen kepada PKS,Ada alasan saya menunda tulisan terakhir saya; karena pihak pemesan settingan yang menjadikan PKS sebagai target, menunggu pertempuran bagian kedua

Setelah urusan 'panas' fathanah selesai dan nanti keluarnya vonis pengadilan buat ustadz luthfi hasan ishaaq, Akan masuk 'pertempuran' kedua yaitu pengadilan huru hara yudi setiawan sang psikopat ambisius, Lucu saya sampai katakan yudi setiawan seorang psikopat ambisius; pernyataan saya terkait penjabaran yudi setiawan yang selalu memakai sarana white board untuk menjelaskan alur alur dan bukti bukti

Bagi saya; hal itu sebuah bukti indikator seorang yudi setiawan seolah tak mau 'sedikitpun' ada yang lupa sesuai settingan pesanan alur alur ke PKS, sangat textbook dan mungkin yudi setiawan memang sudah berubah menjadi mesin pembunuh karakter PKS

Sosok yudi setiawan yang orang golkar karena sebelumnya menduduki bendahara umum GEMA MKGR; adalah antek 'pesuruh' seorang tomy winata, Bicara karakter; antara fathanah dan yudi setiawan memang sangat berbeda...

Fathanah yang easygoing, ramah dan santai lebih menganggap persidangan itu sebuah proses mendengarkan saksi saksi, Tapi kalau seorang yudi setiawan itu ibarat orang yang pendendam; ambisius dan tersistematis alias textbook bagaimana satu demi satu lembaran pembusukan dan pembunuhan karakter kepada PKS dilakukan..

Fathanah mungkin punya kelemahan tidak serius dan santai mengembangkan kasusnya untuk memojokkan seorang LHI, justru easygoing dan kesantaian fathanah menjalani persidangan berdampak dirinya tersibghoh suasana persidangan hingga akhirnya diri fathanah malah menggunakan hati nurani nya untuk meminta maaf kepada orang yang dia jebak sendiri yaitu LHI

Ini akan sangat berbeda dengan sosok yudi setiawan...

Ada motivasi tersendiri sang ambisius yudi setiawan (maaf; bukan bermaksud RASIS), yudi setiawan yang non muslim memang lebih bebas dan 'menyakitkan' untuk memukul; toh dia bukan muslim; apalagi yang dia pukul adalah partai islam yang memang benar benar islam dan selalu berpedoman kepada nilai nilai keislaman dalam berpolitik; bagi yudi setiawan ini adalah jihad versi agamanya; jihad untuk menghancurkan sebuah partai islam terbesar di indonesia..

Luar biasa memang motivasi yang ada pada diri yudi; dan inilah mengapa saya katakan dia (yudi setiawan; red) adalah sebuah mesin sempurna, Mesin yang mudah untuk disetting dan menerima pesanan; di kepalanya cuma ada satu; PKS hancur, PKS hancur!

Berhadapan dengan sebuah mesin seperti yudi setiawan yang sudah tersetting; sebenarnya cuma ada satu cara untuk menghadapinya yaitu dengan 'mematikan' nya,
Mematikannya dengan balik membongkar semua kebusukan seorang yudi setiawan yang merupakan antek seorang tomy winata, Melihat kasus bank BJB yang beraroma dendam seorang tomy winata atas kegagalannya mengakuisisi serta memiliki bank BJB kedalam bagian artha graha group.

Dulu saya pernah beritahukan; semua ini bisa dibaca ketika miranda s goeltom ditangkap KPK terkait cek pelawat (yang cek nya diberikan oleh perusahaan sawit milik artha graha group); dan ternyata miranda bertugas memberi keputusan tentang sebuah bank itu sehat atau tidak; dan apabila ada bank yang menjadi target artha graha group untuk dikuasai kepemilikannya maka tugas miranda membuat bank tersebut bermasalah...

Dan bank BJB yang termasuk bank potensial akhirnya menjadi target incaran artha graha group

Dan kebetulan; bank BJB yang komisaris utamanya adalah gubernur jawa barat dan seorang kader PKS menolak tawaran akuisisi yang ditawarkan artha graha group.

Tomy winata merasa berurusan dengan bank BJB dan PKS. Dan akhirnya terjadilah huru hara yudi setiawan dengan bank BJB. Komisaris artha graha ada juga nama hendropriyono 'orang' dibalik pemesan settingan kepada fathanah. Klop lah rangkaian 'bom' untuk PKS

Diluar itu semua; saya menangkap ada asas saling memanfaatkan yang dilakukan juga oleh pihak istana Dengan mensetting waktu persidangan

Bukankah hal yang aneh; waktu persidangan yudi setiawan menunggu persidangan fathanah dan LHI selesai.

Seolah olah sengaja menjadikan dua persidangan itu sebuah ajang untuk menggoreng dan membangun opini pembusukan kepada sebuah partai bernama PKS.

BAP dan bukti bukti kasus yudi setiawan dari kejaksaan sudah diserahkan ke pengadilan sejak lama; tapi mengapa persidangan kasusnya belum dilaksanakan.

Penetapan waktu untuk menunggu momentum, Ibaratnya PKS adalah samsak yang siap dipukul bergiliran

Persidangan fathanah dan LHI selesai bulan ini; setelah itu masuk persidangan yudi setiawan dan selesainya diperkirakan bulan februari 2014

Bukankah seperti sebuah settingan pembusukan yang tersistematis, Dan tahun 2014 tahun pertempuran politik, Ironis bukan; semua menempatkan PKS menjadi target berlapis, Dengan tujuan mempengaruhi pemilih agar tidak memilih PKS pada 2014

Mereka bergerak secara sistematis dan masif; tapi ada satu kesalahan fatal yang tidak dimiliki mereka didalam operasi pembusukan dan penghancuran kepada PKS. Mereka tidak memiliki niat dilandasi demi Allah rabb semesta alam dan demi Rosulullah SAW didalam menyukseskan operasinya. Mereka hanya dilandasi nafsu dan ambisi setan kekuasaan

Sementara; PKS memiliki kekuatan itu; kekuatan niat perjuangan dengan berlandaskan ridho Allah rabb semesta alam dan semangat seperti yang dimiliki para sahabat rosulullah SAW,  Mereka (para pembuat settingan) lupa; bahwa Allah lah sebaik baik nya pembuat makar, bukan yang lain nya.

http://www.pkspiyungan.org/2013/11/ketika-pks-menjadi-target-berlapis.html